Luwu Timur – Para warga yang mata pencahariannya terganggu akibat kebocoran pipa minyak milik PT Vale masih menunggu kejelasan nasib mereka. Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Luwu Timur dari fraksi PDIP, Erik Estrada, mendesak agar perusahaan segera menyelesaikan pendataan warga terdampak dan tidak menunda-nunda proses pembayaran kompensasi. Ketidakpastian yang berkepanjangan dinilai hanya akan menambah penderitaan masyarakat yang kehilangan akses ke danau dan sawah untuk mencari nafkah.
Menurut Erik, persoalan ganti rugi ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan menyangkut hajat hidup banyak keluarga. Anak-anak sekolah dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari menjadi taruhan. Mereka yang biasanya menggantungkan hidup dari menangkap ikan di danau atau bercocok tanam di sawah, kini tidak bisa berbuat banyak karena sumber penghasilan mereka rusak. Ia menegaskan bahwa warga membutuhkan kepastian, bukan janji yang menggantung tanpa ujung.
Sebelumnya, Erik juga sudah mengingatkan PT Vale untuk sesegera mungkin membersihkan aliran sungai yang masih tercemar. Berdasarkan laporan yang ia terima dari warga, sisa-sisa tumpahan minyak masih terlihat mengalir mulai dari kawasan Desa Baruga dan daerah sekitarnya. Ia berharap pihak perusahaan melakukan pembersihan secara total di sepanjang sungai yang tercemar, tanpa menyisakan sedikit pun residu yang bisa membahayakan lingkungan dan kesehatan warga.
Lebih lanjut, ia menyoroti minimnya komunikasi dari pihak PT Vale terkait penanganan limbah maupun jadwal penggantian kerugian. Hingga saat ini, tidak ada kejelasan kapan kompensasi akan diberikan kepada para petani dan warga yang menjadi korban. Erik menuntut PT Vale untuk mengadakan pertemuan langsung dengan masyarakat di lokasi terdampak guna membahas mekanisme penyelesaian ganti rugi secara transparan dan cepat.
Permintaan tersebut ia sampaikan kepada awak media pada Kamis (25/9/2025). Sampai berita ini diturunkan, tim redaksi SwarnaAktual.id telah mencoba menghubungi perwakilan PT Vale melalui sambungan WhatsApp untuk meminta tanggapan, namun belum ada respons yang masuk hingga berita ini diterbitkan.










