Lebih dari satu dekade lamanya, warga di sebuah dusun terpencil di Sulawesi Selatan terpaksa menggantungkan kebutuhan listrik mereka pada tiang bambu lapuk yang mereka pasang sendiri. Kini, mereka mendesak pihak berwenang untuk segera turun tangan. Permohonan mendesak ini disampaikan karena tiang-tiang bambu tersebut telah rapuh dimakan usia dan membahayakan jiwa, terutama ketika cuaca buruk melanda.
Marthinus Pasendeng, atau yang akrab disapa Pak Yori (55), mengungkapkan bahwa selama ini warga secara sukarela mengumpulkan dana dan bahu-membahu mengganti tiang bambu yang rusak demi menjaga aliran listrik tetap menyala di rumah-rumah mereka. Ia menjelaskan bahwa usulan untuk pengadaan tiang listrik permanen berbahan besi sebenarnya sudah beberapa kali diajukan dalam forum Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) tingkat desa, namun realisasinya tak kunjung datang dari PLN maupun Pemerintah Kabupaten Luwu Utara.
Menurut Pak Yori, jaringan listrik sepanjang satu kilometer dari jalan poros Trans Sulawesi menuju Dusun Pompaniki membentang di atas pematang sawah yang berada di tepi sungai. Kondisi geografis ini membuat instalasi kabel sangat rentan, terlebih jika penyangganya hanya berupa bambu. Pak Yori menambahkan bahwa rasa khawatir selalu menghantui warga saat musim penghujan tiba, mengingat pernah ada kejadian tiang bambu yang patah dan nyaris menimpa warga. Baginya, persoalan ini bukan lagi sekadar masalah kenyamanan, melainkan sudah menyangkut nyawa manusia.
Senada dengan itu, Vinsen (53), warga lainnya, menegaskan bahwa persoalan tiang bambu ini sudah berlangsung selama sepuluh tahun. Berbagai upaya telah dilakukan, termasuk menyuarakan aspirasi kepada anggota dewan, tetapi hasilnya nihil. Ia menyoroti ironi di mana tarif listrik terus mengalami kenaikan, sementara fasilitas dasar seperti tiang listrik justru harus mereka tangani secara mandiri. Vinsen menilai sudah saatnya pemerintah turun langsung ke lapangan dan melihat sendiri kondisi yang dialami warganya.
Dusun Pompaniki sendiri, yang secara administratif berada di Desa Pompaniki, Kecamatan Sabbang Selatan, Kabupaten Luwu Utara, saat ini memiliki sekitar 14 Kepala Keluarga (KK) yang menggantungkan pasokan listriknya pada jaringan darurat tersebut. Warga berharap agar tiang bambu yang rapuh segera diganti dengan tiang besi yang lebih kokoh dan tahan lama demi keamanan bersama. Jika permintaan mereka terus diabaikan oleh PLN dan pemerintah kabupaten, warga berancang-ancang untuk mengirimkan proposal permohonan langsung ke Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan sebagai langkah lanjutan.
Upaya konfirmasi yang dilakukan awak media kepada Kepala Desa Pompaniki, Drs Jayadi, melalui sambungan telepon dan pesan WhatsApp belum membuahkan respons hingga berita ini ditulis. Permintaan tanggapan yang telah disampaikan belum mendapatkan jawaban dari yang bersangkutan, sehingga belum ada klarifikasi resmi dari pihak pemerintah desa terkait keluhan yang disuarakan warganya.











