Luwu Timur – Dalam upaya menanamkan kesadaran politik sejak usia dini, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Luwu Timur menggelar sosialisasi kepemiluan yang menyasar pelajar di SMA Negeri 7 Luwu Timur, Kecamatan Burau, Desa Jalajja, pada Selasa (21/4). Kegiatan tersebut berlangsung dinamis dengan melibatkan puluhan pengurus OSIS dalam dialog interaktif dua arah. Fokus utama pembahasan adalah pentingnya pemahaman kepemiluan yang mendalam serta penolakan terhadap segala bentuk politik uang yang dapat merusak kualitas demokrasi.
Ketua Bawaslu Kabupaten Luwu Timur, Pawennari, menjelaskan bahwa para siswa kelas XI dan XII tengah berada pada posisi yang sangat krusial. Mereka adalah calon pemilih pemula, bahkan sebagian dari mereka telah mengantongi KTP dan bersiap menyalurkan suara pada kontestasi Pemilu mendatang. Pawennari menegaskan bahwa setiap individu yang telah mencapai usia 17 tahun atau sudah menikah memiliki hak konstitusional untuk memilih. Hak tersebut seharusnya digunakan dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran, bukan didasari oleh bujuk rayu atau iming-iming materi yang bersifat transaksional.
Dalam pemaparannya, Pawennari menggarisbawahi bahwa kualitas hasil pemilu sangat ditentukan oleh integritas proses yang berlangsung. Menurutnya, ketika pemilih menggunakan haknya secara jujur dan tanpa tekanan, maka keputusan politik yang lahir akan lebih objektif dan mencerminkan kehendak rakyat yang sesungguhnya. Ia menyebutkan bahwa praktik politik uang merupakan ancaman serius yang harus dilawan oleh seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda, agar demokrasi dapat berjalan dengan sehat dan beradab.
Lebih jauh, Pawennari menyoroti proyeksi komposisi pemilih pada Pemilu 2029 yang diperkirakan akan didominasi oleh generasi Z dan milenial. Oleh karena itu, ia menilai bahwa siswa kelas XI dan XII saat ini memiliki peran strategis dalam menentukan arah masa depan bangsa. Pemahaman yang benar tentang proses demokrasi sejak dini akan menjauhkan mereka dari sikap pragmatis yang hanya mementingkan keuntungan sesaat. Ia menambahkan bahwa partisipasi dalam pemilu tidak hanya berhenti pada pemberian suara, tetapi juga mencakup keterlibatan aktif dalam mengawal dan mempersiapkan jalannya pemilu yang lebih berkualitas.
Sambutan hangat datang dari pihak sekolah melalui Guru Pembina Rosdiana Said yang menerima langsung kedatangan tim Bawaslu. Pihak sekolah memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif edukasi politik yang dilakukan oleh Bawaslu Luwu Timur. Bahkan, para pengurus OSIS mengusulkan agar kerja sama tersebut dapat dilanjutkan, termasuk melibatkan Bawaslu dalam berbagai program kesiswaan serta pelaksanaan pemilihan ketua OSIS sebagai media pembelajaran demokrasi di lingkungan sekolah. Pada akhir kegiatan, Pawennari kembali menyampaikan ungkapan terima kasih kepada Kepala Sekolah dan seluruh guru yang telah memberikan kesempatan bagi Bawaslu untuk berbagi wawasan kepemiluan, dengan harapan dapat menumbuhkan kesadaran politik yang berlandaskan pengetahuan yang kuat dalam diri para siswa.











